oleh

Harga Minyak Turun Lantaran Meningkatnya Kasus Covid-19

Harga minyak turun pada Senin (9/8/2021) melanjutkan penurunan tajam minggu lalu. Meningkatnya kasus Covid-19 memimbulkan kekhawatiran perlambatan permintaan.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate sempat turun 4% mencapai US$ 65,15, atau terendah sejak Mei. Namun pada berangsur pulih dan ditutup melemah 2,64% di US$ 66,48 per barel. Patokan internasional minyak mentah Brent mencapai US$ 69,04 per barel atau turun 2,35%, setelah mencapai level terendah US$ 67,60.

“Tantangan terbesar pasar minyak masih soal ketidakpastian seputar Covid-19 karena varian delta membuat jumlah kasus harian mencapai level tertinggi sejak awal 2021,” kata Bank of America.

Baca Juga  Mendagri Minta Pemerintah Daerah Cepat Turukan Bantuan Sosial

Pada pekan lalu, kedua kontrak turun 7% mencapai minggu terburuk sejak Oktober. Penurunan terjadi di tengah kekhawatiran loyonya permintaan dan peningkatan persediaan minyak mentah AS. Administrasi Informasi Energi AS mengatakan Rabu bahwa stok minyak mentah naik 3,6 juta barel pada minggu sebelumnya. Sementara analis yang disurvei FactSet memperkirakan penurunan 2,9 juta barel. Namun, stok bensin turun lebih besar dari perkiraan 5,3 juta barel.

Baca Juga  GeNose C19 Karya Anak Bangsa yang Bermanfaat Bagi Industri Pariwisata

Data dari Tiongkok juga membebani minyak mentah pada Senin. Pertumbuhan ekspor negara itu secara tak terduga melambat pada Juli, sementara impor naik 28,1% dari tahun sebelumnya. Angka ini di bawah perkiraan naik 33%.

Tiongkok, konsumen minyak terbesar kedua di dunia, mengimpor 9,7 juta barel per hari pada Juli, bulan keempat berturut-turut di bawah 10 juta barel per hari, menurut analis Commerzbank.

Baca Juga  Juru Bicara Penanganan Covid-19 dan Para Ahli Sepakat Hidup Bersama Covid-19

“Penurunan harga berlanjut (Senin) di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang permintaan,” tulis perusahaan itu dalam sebuah catatan kepada klien.

“Pelaku pasar mengamati meningkatnya kasus virus corona di Asia, karena dapat mendorong pemerintah Tiongkok untuk mengambil tindakan ketat sejalan strategi nol Covid-19.” (*/cr2)

Sumber: beritasatu.com

News Feed