oleh

Puskesmas Alami Penurunan Cakupan Imunisasi Dasar Sebesar 56,9%

Selama pandemi virus Corona, Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) mengalami penurunan cakupan imunisasi dasar (non Covid-19) yang cukup signifikan yaitu sebesar 56,9 %. Padahal imunisasi merupakan cara yang aman dan efektif untuk mencegah penyakit dan menyelamatkan nyawa.

Dokter Deliana Permatasari dari Vaccine Medical Director GlaxoSmithKline (GSK) menyayangkan hal itu, mengingat imunisasi dasar yang lengkap berperan penting melindungi anak dari risiko terpapar Covid-19 maupun penyakit KLB PD3I (Kejadian Luar Biasa Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi).

“Di masa pandemi seperti saat ini, penting untuk terus melakukan edukasi mengenai pentingnya imunisasi serta meyakinkan orang tua untuk memberikan imunisasi kepada anak-anaknya dengan tetap memperhatikan prinsip Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI),” ujar dia dalam keterangannya kepada Beritasatu.com, Selasa (5/10/2021).

Menyikapi kondisi imunisasi di masa pandemi Covid-19 yang masih berjalan sampai saat ini, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) telah melakukan pemutakhiran rekomendasi pelayanan imunisasi rutin anak di masa pandemi Covid-19 pada 27 Juli 2021 lalu.

Baca Juga  Polres Minahasa Bantu Evakuasi Warga Korban Banjir Papakelan Tondano

Pemutakhiran ini merupakan hasil pertimbangan dari peninjauan pemberian imunisasi rutin saat awal pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat, situasi terkini pandemi Covid-19 serta perpanjangan PPKM oleh pemerintah.

Dalam pemutakhiran rekomendasi pelayanan imunisasi rutin anak pada masa pandemi Covid-19 IDAI merekomendasikan agar semua anggotanya di daerah PPKM kembali melanjutkan layanan imunisasi, terutama imunisasi kejar secara simultan dengan mempertimbangkan risiko di masing-masing fasilitas kesehatan serta menerapkan protokol kesehatan yang ketat untuk tenaga kesehatan maupun pasien.

Lebih lanjut, IDAI merekomendasikan layanan imunisasi di masa pandemi Covid-19 agar mengikuti petunjuk teknis pelayanan imunisasi pada masa pandemi Covid-19 yang telah disusun sebelumnya oleh Kemenkes bersama IDAI, ITAGI, Komnas KIPI, WHO, Unicef dan CHAI Indonesia pada Mei 2020. Layanan imunisasi jika perlu dan memungkinkan dapat menerapkan layanan tanpa turun (lantatur), dan selain imunisasi dokter diminta untuk memprioritaskan telekonsultasi untuk pelayanan kesehatan anak bukan gawat darurat dan melakukan pemantauan telekonsultasi untuk anak-anak yang sedang dalam isolasi mandiri.

Baca Juga  Kondisi Terkini, Banjir Papakelan Rendam Ratusan Rumah

GlaxoSmithKline (GSK) sebagai perusahaan perawatan kesehatan global dengan teknologi sains terdepan senantiasa berupaya untuk membantu masyarakat berbuat lebih banyak, merasa lebih baik, dan hidup lebih lama.

Terkait PPI, Kementerian Kesehatan dan IDAI telah mengeluarkan Petunjuk Teknis Pelayanan Imunisasi pada Masa Pandemi Covid-19 agar fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan tetap melayani imunisasi anak di tengah pandemi. Empat panduan yang terpenting adalah prinsip jaga jarak fisik, pemberlakuan sistem triase (memisahkan anak yang imunisasi dengan anak yang berobat karena sakit), pengaturan jam kedatangan untuk mencegah kerumunan pasien, serta sosialisasi bagi orang tua dan anak untuk menjalankan perilaku hidup bersih dan sehat dengan mencuci tangan dengan sabun dan memakai masker di luar rumah.

Baca Juga  Pemkot Bogor Optimis Turunkan Level PPKM

Dengan adanya empat panduan untuk mendukung imunisasi yang aman, orangtua dapat kembali melakukan imunisasi yang mungkin terlewatkan atau dibutuhkan oleh anak-anak.

“Memberikan imunisasi lengkap pada bayi dan anak tidak hanya melindungi si anak dari penyakit tertentu tetapi juga membantu tercapainya kekebalan komunitas (herd immunity). Semakin banyak jumlah anak yang diimunisasi, semakin tinggi pula cakupan imunisasi sehingga anak-anak yang tidak mendapat imunisasi akan tetap terlindungi,” tutur dr Deliana. (*/cr2)

Sumber: beritasatu.com

News Feed